Publication
Explore our latest publications featuring in-depth research and analysis from Katadata Insight Center.
Dampak Ekonomi Adeging Mangkunegaran 2026
Katadata Insight Center (KIC) melakukan survei Dampak Ekonomi Adeging Mangkunegaran 2026. Survei ini ditujukan untuk mengukur secara pasti kontribusi acara Adeging Mangkunegaran 2026 terhadap perekonomian. Didapatkan bahwa dampak ekonomi yang dihasilkan sebesar 87,9 Miliar, meningkat 119,8% dari penyelenggaraan Adeging Mangkunegaran 2025. Survei ini juga memotret secara detil pengeluaran pelari dan peningkatan omset yang dialami pelaku usaha. Yang menarik, riset ini juga membandingkan dampak ekonomi Mangkunegaran Run 2026 dengan acara lari nasional dan acara lari internasional lainnya.
Survei ini melibatkan total 320 responden yang terdiri dari pelari, pengunjung dan pelaku usaha. Survei dilakukan secara tatap muka selama acara berlangsung pada 1-3 Mei 2026.
Kontribusi Adeging Mangkunegaran 2026 Terhadap Perekonomian
Sektor Energi di Tengah Tekanan Geopolitik
Konflik geopolitik di Timur Tengah kembali menempatkan sektor energi global dalam tekanan. Kawasan ini tidak hanya menjadi pusat produksi energi, tetapi juga jalur distribusi strategis dunia, terutama melalui Selat Hormuz. Gangguan di jalur ini memicu kekhawatiran terhadap pasokan energi global dan mendorong lonjakan harga minyak, yang kemudian memperkuat ketidakpastian ekonomi di berbagai negara, termasuk Indonesia.
Dalam konteks domestik, ketergantungan Indonesia terhadap impor energi membuat dampak global tersebut terasa lebih cepat dan luas. Kenaikan harga energi tidak hanya memengaruhi biaya bahan bakar, tetapi juga berimbas pada inflasi, daya beli, serta stabilitas ekonomi secara keseluruhan. Analisis terhadap pemberitaan media dan percakapan publik di ruang digital menunjukkan bahwa isu harga energi menjadi tema utama, dengan narasi yang secara konsisten mengaitkan konflik global dengan tekanan ekonomi di dalam negeri.
Di sisi lain, pemerintah diposisikan sebagai aktor kunci dalam menjaga stabilitas melalui kebijakan harga dan pengamanan pasokan energi. Sementara itu, publik merespons dinamika ini dengan dominasi sentimen kekhawatiran, terutama terkait kenaikan harga dan dampaknya terhadap kehidupan sehari-hari. Namun, di tengah tekanan tersebut, juga muncul narasi adaptif yang mendorong efisiensi energi serta percepatan transisi menuju sumber energi yang lebih berkelanjutan.
Respons publik terhadap dampak geopolitik Timur Tengah pada energi dan ekonomi Indonesia
Kelas Menengah di Persimpangan Masa Depan
Pada edisi kedua, studi Katadata Indonesia Middle Class Insight (KIMCI) menegaskan peran strategis kelas menengah sebagai tulang punggung perekonomian, motor konsumsi, penopang stabilitas, serta kunci pertumbuhan menuju Indonesia maju. Namun, peran tersebut kini dihadapkan pada tekanan yang semakin nyata, seperti kenaikan biaya hidup, ketidakpastian pendapatan, dan meningkatnya kebutuhan dasar.
Kondisi ini membuat kelas menengah tidak hanya berjuang untuk naik kelas, tetapi juga bertahan agar tidak mengalami penurunan, yang pada akhirnya turut memengaruhi cara pandang, prioritas, dan keputusan mereka dalam kehidupan sehari-hari.
Untuk memahami dinamika tersebut, dilakukan survei online berskala nasional terhadap 1.000 responden pada periode Q4 2025 hingga Q1 2026. Studi ini tidak hanya mengangkat tantangan dan keresahan kelas menengah, tetapi juga bagaimana mereka beradaptasi dalam menghadapi situasi ekonomi yang semakin kompleks.
Hasil penelitian diharapkan memberikan pemahaman komprehensif terkait kondisi, perilaku, dan persepsi kelas menengah, serta menjadi dasar dalam merumuskan strategi dan kebijakan yang lebih tepat sasaran guna memperkuat daya tahan, mendorong pertumbuhan, dan mendukung pembangunan ekonomi dan sosial Indonesia secara berkelanjutan.
Perjuangan kelas menengah bertahan dan beradaptasi
Dari Alternatif Menjadi Imperatif: Peran Vital Industri Pindar bagi Ekonomi Digital Indonesia
Katadata Insight Center (KIC) bersama Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) merilis whitepaper bertajuk “Dari Alternatif Menjadi Imperatif: Peran Vital Industri Pindar bagi Ekonomi Digital Indonesia” yang mengulas transformasi industri peer-to-peer lending (pinjaman daring/pindar) dalam kontribusinya mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. Laporan ini disusun berdasarkan analisis data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Badan Pusat Statistik (BPS), serta survei daring terhadap 309 UMKM penerima pembiayaan pindar di berbagai sektor usaha.
Whitepaper ini menegaskan bahwa pindar tidak lagi sekadar alternatif pembiayaan, melainkan telah menjadi imperatif yang menjembatani funding gap bagi segmen unbankable dan underserved. Secara makro, setiap Rp1 pinjaman produktif berkontribusi Rp6 terhadap perekonomian melalui efek pengganda. Secara mikro, akses pembiayaan mendorong kenaikan rata-rata omzet UMKM hingga 121% dan meningkatkan resiliensi usaha di tengah tekanan ekonomi, sekaligus mempercepat digitalisasi kanal penjualan.
Sebagai langkah strategis, laporan ini merekomendasikan penguatan sinergi antara perbankan dan pindar, peningkatan transparansi biaya layanan untuk membangun kepercayaan publik, perluasan literasi keuangan digital, serta integrasi pembiayaan dengan program transformasi digital UMKM. Whitepaper ini diharapkan menjadi rujukan dalam merumuskan kebijakan kolaboratif guna memastikan industri pindar tumbuh berkelanjutan dan semakin berkontribusi bagi ekonomi digital Indonesia.
Pindar menjadi imperatif yang menjembatani funding gap bagi segmen unbankable dan underserved
Menjaga Kesehatan Mental Dengan Sehat Finansial
Kondisi finansial dianggap memiliki kaitan erat dengan tingkat kebahagiaan seseorang. Hasil riset terbaru menunjukkan bahwa hampir seluruh responden mengaku kebahagiaan mereka dipengaruhi oleh keadaan keuangan yang sedang dialami. Namun disaat yang bersamaan banyak responden juga mengaku masih menghadapi tantangan dalam mengelola keuangan pribadi.
Menariknya, di tengah kesulitan tersebut, teknologi hadir sebagai solusi yang sangat membantu. Mayoritas responden menyebutkan bahwa fitur-fitur perbankan digital maupun layanan fintech memberi kemudahan dalam mengatur keuangan, seperti mencatat pengeluaran, menabung otomatis, hingga mengelola cicilan. Keberadaan teknologi finansial ini tidak hanya meringankan beban administrasi keuangan, tetapi juga menghadirkan rasa kontrol yang lebih besar terhadap kondisi finansial mereka.
Finansial dianggap sangat mempengaruhi kesehatan mental