Publikasi
Jelajahi publikasi terbaru kami yang menampilkan riset mendalam dan analisis dari Katadata Insight Center.
Potret Narasi Transisi Energi dan Kehutanan dalam Lanskap Media di Indonesia
Kajian media monitoring berjudul “Potret Narasi Transisi Energi dan Kehutanan dalam Lanskap Media di Indonesia” ini menganalisis dinamika isu serta aktor yang terlibat dalam transisi energi dan Forestry and Other Land Use (FOLU) sebagai dua pilar utama pencapaian target iklim nasional. Analisis dilakukan terhadap media daring dan media sosial pada periode Januari 2024 hingga Mei 2025 dengan menggunakan empat kata kunci utama, yaitu transisi energi, mineral kritis, masyarakat adat, dan kawasan hutan.
Hasil pemantauan media daring melalui proses crawling berbasis pencarian Google News yang menghimpun pemberitaan dari berbagai media seperti Tempo.co, ANTARA News, Mongabay.co.id, Kompas.com, CNBC Indonesia, Dunia Energi, dan lainnya menunjukkan bahwa isu ‘transisi energi’ menjadi topik paling dominan dengan total 2.291 artikel, yang mayoritas membahas konteks nasional. Narasi utama berfokus pada percepatan energi terbarukan, peningkatan bauran energi bersih, serta pengurangan pembangkit listrik berbahan bakar fosil, dengan tantangan pada aspek pembiayaan dan implementasi kebijakan yang terus berulang. Sementara itu, isu ‘mineral kritis’ tercatat dalam 862 artikel dan lebih banyak dibahas dalam konteks internasional, yang menunjukkan bahwa isu ini masih diposisikan sebagai agenda strategis global dan belum sepenuhnya menguat dalam diskursus domestik. Untuk isu FOLU, ‘masyarakat adat’ muncul dalam 1.685 artikel dengan fokus pada konflik lahan dan hak tenurial, sedangkan ‘kawasan hutan’ tercatat dalam 1.632 artikel yang menyoroti tata kelola, konversi lahan, serta aktivitas ilegal di dalam kawasan hutan.
Media monitoring dinamika isu serta aktor yang terlibat dalam transisi energi dan kehutanan
Sektor Energi di Tengah Tekanan Geopolitik
Konflik geopolitik di Timur Tengah kembali menempatkan sektor energi global dalam tekanan. Kawasan ini tidak hanya menjadi pusat produksi energi, tetapi juga jalur distribusi strategis dunia, terutama melalui Selat Hormuz. Gangguan di jalur ini memicu kekhawatiran terhadap pasokan energi global dan mendorong lonjakan harga minyak, yang kemudian memperkuat ketidakpastian ekonomi di berbagai negara, termasuk Indonesia.
Dalam konteks domestik, ketergantungan Indonesia terhadap impor energi membuat dampak global tersebut terasa lebih cepat dan luas. Kenaikan harga energi tidak hanya memengaruhi biaya bahan bakar, tetapi juga berimbas pada inflasi, daya beli, serta stabilitas ekonomi secara keseluruhan. Analisis terhadap pemberitaan media dan percakapan publik di ruang digital menunjukkan bahwa isu harga energi menjadi tema utama, dengan narasi yang secara konsisten mengaitkan konflik global dengan tekanan ekonomi di dalam negeri.
Di sisi lain, pemerintah diposisikan sebagai aktor kunci dalam menjaga stabilitas melalui kebijakan harga dan pengamanan pasokan energi. Sementara itu, publik merespons dinamika ini dengan dominasi sentimen kekhawatiran, terutama terkait kenaikan harga dan dampaknya terhadap kehidupan sehari-hari. Namun, di tengah tekanan tersebut, juga muncul narasi adaptif yang mendorong efisiensi energi serta percepatan transisi menuju sumber energi yang lebih berkelanjutan.
Respons publik terhadap dampak geopolitik Timur Tengah pada energi dan ekonomi Indonesia
Kelas Menengah di Persimpangan Masa Depan
Pada edisi kedua, studi Katadata Indonesia Middle Class Insight (KIMCI) menegaskan peran strategis kelas menengah sebagai tulang punggung perekonomian, motor konsumsi, penopang stabilitas, serta kunci pertumbuhan menuju Indonesia maju. Namun, peran tersebut kini dihadapkan pada tekanan yang semakin nyata, seperti kenaikan biaya hidup, ketidakpastian pendapatan, dan meningkatnya kebutuhan dasar.
Kondisi ini membuat kelas menengah tidak hanya berjuang untuk naik kelas, tetapi juga bertahan agar tidak mengalami penurunan, yang pada akhirnya turut memengaruhi cara pandang, prioritas, dan keputusan mereka dalam kehidupan sehari-hari.
Untuk memahami dinamika tersebut, dilakukan survei online berskala nasional terhadap 1.000 responden pada periode Q4 2025 hingga Q1 2026. Studi ini tidak hanya mengangkat tantangan dan keresahan kelas menengah, tetapi juga bagaimana mereka beradaptasi dalam menghadapi situasi ekonomi yang semakin kompleks.
Hasil penelitian diharapkan memberikan pemahaman komprehensif terkait kondisi, perilaku, dan persepsi kelas menengah, serta menjadi dasar dalam merumuskan strategi dan kebijakan yang lebih tepat sasaran guna memperkuat daya tahan, mendorong pertumbuhan, dan mendukung pembangunan ekonomi dan sosial Indonesia secara berkelanjutan.
Perjuangan kelas menengah bertahan dan beradaptasi
Kelas Menengah di Ambang Kerentanan
Kelas menengah merupakan penggerak utama konsumsi domestik dan penopang stabilitas ekonomi Indonesia. Namun, kelompok ini kini menghadapi tekanan yang meningkat. Proporsinya menurun dari 21,4% pada 2019 menjadi 16,6% pada 2025, sementara jumlah calon kelas menengah terus bertambah, menandakan semakin banyak masyarakat berada dalam posisi ekonomi yang rentan.
Analisis percakapan digital di media dan media sosial menunjukkan bahwa isu biaya hidup menjadi topik paling dominan. Kenaikan harga kebutuhan dasar, pendidikan, kesehatan, dan perumahan sering dikaitkan dengan tekanan daya beli. Selain itu, ketidakpastian pekerjaan, beban fiskal, dan akses hunian juga memengaruhi ketahanan ekonomi mereka.
Kondisi ini menggambarkan kelas menengah Indonesia berada pada fase “rentan sejahtera”—tidak tergolong miskin, tetapi tetap berisiko mengalami penurunan kesejahteraan ketika terjadi tekanan ekonomi. Karena itu, kondisi kelas menengah menjadi indikator penting bagi arah kesejahteraan masyarakat dan dinamika ekonomi nasional.
Kelas menengah Indonesia saat ini berada pada fase “rentan sejahtera”
Dari Alternatif Menjadi Imperatif: Peran Vital Industri Pindar bagi Ekonomi Digital Indonesia
Katadata Insight Center (KIC) bersama Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) merilis whitepaper bertajuk “Dari Alternatif Menjadi Imperatif: Peran Vital Industri Pindar bagi Ekonomi Digital Indonesia” yang mengulas transformasi industri peer-to-peer lending (pinjaman daring/pindar) dalam kontribusinya mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. Laporan ini disusun berdasarkan analisis data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Badan Pusat Statistik (BPS), serta survei daring terhadap 309 UMKM penerima pembiayaan pindar di berbagai sektor usaha.
Whitepaper ini menegaskan bahwa pindar tidak lagi sekadar alternatif pembiayaan, melainkan telah menjadi imperatif yang menjembatani funding gap bagi segmen unbankable dan underserved. Secara makro, setiap Rp1 pinjaman produktif berkontribusi Rp6 terhadap perekonomian melalui efek pengganda. Secara mikro, akses pembiayaan mendorong kenaikan rata-rata omzet UMKM hingga 121% dan meningkatkan resiliensi usaha di tengah tekanan ekonomi, sekaligus mempercepat digitalisasi kanal penjualan.
Sebagai langkah strategis, laporan ini merekomendasikan penguatan sinergi antara perbankan dan pindar, peningkatan transparansi biaya layanan untuk membangun kepercayaan publik, perluasan literasi keuangan digital, serta integrasi pembiayaan dengan program transformasi digital UMKM. Whitepaper ini diharapkan menjadi rujukan dalam merumuskan kebijakan kolaboratif guna memastikan industri pindar tumbuh berkelanjutan dan semakin berkontribusi bagi ekonomi digital Indonesia.
Pindar menjadi imperatif yang menjembatani funding gap bagi segmen unbankable dan underserved