Publikasi
Jelajahi publikasi terbaru kami yang menampilkan riset mendalam dan analisis dari Katadata Insight Center.
Perjalanan Calon Konsumen Menuju Keputusan Pembelian Mobil
Keputusan membeli mobil tidak terjadi dalam sekejap. Sebelum menentukan pilihan, calon konsumen melalui serangkaian pertimbangan yang membentuk preferensi mereka, mulai dari membandingkan berbagai merek, mempertimbangkan negara asal dan jenis kendaraan, mengevaluasi kisaran harga, hingga memutuskan apakah saat ini merupakan waktu yang tepat untuk membeli atau menunda pembelian. Penelitian ini memetakan perjalanan tersebut untuk mengungkap faktor-faktor yang membentuk keputusan pembelian mobil. Temuan yang dihasilkan memberikan insight mengenai perilaku calon konsumen sekaligus menjadi masukan bagi pelaku industri otomotif dalam merancang strategi yang lebih relevan dengan dinamika dan kebutuhan pasar.
faktor-faktor yang membentuk keputusan pembelian mobil
Bagaimana Calon Konsumen Mengeliminasi Mobil Pilihan?
Setiap tahun, jutaan calon pembeli mobil menjalani proses yang tampaknya sederhana, namun sesungguhnya jauh lebih kompleks dari yang terlihat. Mereka tidak hanya memilih, mereka mengeliminasi. Satu per satu, merek-merek yang sempat menarik perhatian mereka gugur bukan karena kalah bersaing dalam hal fitur atau harga, melainkan karena gagal melewati serangkaian filter tak terlihat yang bekerja di benak konsumen. Laporan ini memetakan filter-filter tersebut: dari momen pertama sebuah brand masuk ke radar konsumen, hingga detik terakhir ketika satu nama tersisa dan keputusan pembelian dibuat. Bagi brand yang ingin bertahan hingga akhir, memahami proses eliminasi ini bukan pilihan tapi keharusan.
Memahami cara konsumen mengeliminasi mobil pilihan
Kelas Menengah di Ambang Kerentanan
Kelas menengah merupakan penggerak utama konsumsi domestik dan penopang stabilitas ekonomi Indonesia. Namun, kelompok ini kini menghadapi tekanan yang meningkat. Proporsinya menurun dari 21,4% pada 2019 menjadi 16,6% pada 2025, sementara jumlah calon kelas menengah terus bertambah, menandakan semakin banyak masyarakat berada dalam posisi ekonomi yang rentan.
Analisis percakapan digital di media dan media sosial menunjukkan bahwa isu biaya hidup menjadi topik paling dominan. Kenaikan harga kebutuhan dasar, pendidikan, kesehatan, dan perumahan sering dikaitkan dengan tekanan daya beli. Selain itu, ketidakpastian pekerjaan, beban fiskal, dan akses hunian juga memengaruhi ketahanan ekonomi mereka.
Kondisi ini menggambarkan kelas menengah Indonesia berada pada fase “rentan sejahtera”—tidak tergolong miskin, tetapi tetap berisiko mengalami penurunan kesejahteraan ketika terjadi tekanan ekonomi. Karena itu, kondisi kelas menengah menjadi indikator penting bagi arah kesejahteraan masyarakat dan dinamika ekonomi nasional.
Kelas menengah Indonesia saat ini berada pada fase “rentan sejahtera”
Indonesia Middle Classin Motion: Smarter Choice, Wiser Spending
Indonesia’s middle class isn’t just the biggest consumer group, they are the engine driving our economy, culture, and digital transformation. Over the past year, they have faced inflationary pressures, digital saturation, and shifting life aspirations. All of this has pushed them to ask a fundamental question: what truly matters?
Their choices today, what they perceive as valuable, how they adopt technology, and how they balance sustainability with comfort are early signals of what Indonesia’s future economy and culture will look like.
In this report, each global trend is translated into the everyday behaviors of Indonesia’s middle class. The result is a deep reading of how they define value (worth), grounded sustainability, and human–technology balance.
This is a roadmap to Indonesia’s future, built on real behaviors not assumptions. To understand the middle class is to understand where Indonesia is heading next.
Kelas menengah menjadi penggerak ekonomi, budaya, dan transformasi digital Indonesia
Self-Care Lebih dari Sekadar Penampilan
Bagi banyak orang, self-care kini bukan lagi dianggap sebagai kemewahan, melainkan kebutuhan penting untuk menjaga keseimbangan hidup di tengah padatnya aktivitas. Hasil riset menunjukkan bahwa hampir seluruh responden percaya aktivitas seperti olahraga, merawat kulit, hingga berpakaian rapi dapat membantu memperbaiki suasana hati dan meningkatkan kebahagiaan. Bagi mereka, merawat diri bukan hanya tentang penampilan luar, tetapi juga tentang bagaimana seseorang memulihkan energi dan memberi ruang bagi dirinya untuk beristirahat.
Mayoritas responden mengaku telah melakukan aktivitas self-care dalam setahun terakhir sebagai bentuk pengelolaan stres dan upaya meningkatkan mood. Dari berbagai kegiatan, merawat kulit dengan skincare dan berolahraga menjadi pilihan utama dalam memperbaiki suasana hati. Aktivitas lain seperti perawatan tubuh di spa, menonton serial favorit dan berpakaian rapi juga banyak dilakukan untuk menciptakan rasa nyaman dan meningkatkan kepercayaan diri.
Temuan ini memperlihatkan bahwa self-care telah menjadi bagian dari gaya hidup yang sadar dan bermakna. Ia bukan sekadar rutinitas mempercantik diri, melainkan bentuk apresiasi terhadap tubuh dan pikiran dalam hidup sehari-hari.
Mayoritas orang percaya bahwa self-care dapat memperbaiki suasana hati dan meningkatkan kebahagiaan